PUZZLE

“Pat, kau yakin ingin pergi dari sini?”

“Ya, aku sudah memutuskannya.  Menurutmu sendiri bagaimana, Tim?” Katanya sambil mengemas barang-barangnya dalam sebuah kopor besar.

“Itu jalanmu, Pat. Kau yang berhak menentukannya … tak ada siapapun yang berhak menghentikanmu. Hanya saja …”

“Hanya saja apa?”

“Rumah ini akan kosong, Pat.  Tak ada yang menempatinya”

“Ya..memang akan seperti itu”

“Dan tak akan ada yang mengurusnya, Pat”

“Ya…bagaimana lagi”

“Perjalananmu tidak sebentar, Pat.  Berapa lama kau akan kembali?’

Pat menghela nafas.

“Entahlah…aku masih belum memikirkannya”

“Kenapa tidak kau urungkan saja niatmu untuk pergi itu?”

Pat terdiam sejenak, lalu berjalan mengarah ke meja kayu yang terletak di sudut ruang dan duduk diatasnya.

“Kalau aku terus tinggal di sini, aku justru akan semakin sedih, Tim”

“Maksudmu?”

Mata Pat memandang lambat-lambat ke langit-langit dan ke seluruh penjuru ruang.

“Ini rumah yang kecil, dan nyaman … yah, kau tahu, semua kenangan manis yang pernah terjadi di antara kami semua tersimpan di rumah ini…”

“Lalu?…kenapa kau tetap ingin pergi juga?”

“kau tahu….ini mirip puzzle …. rumah ini adalah kepingan puzzle yang tersusun dan terbingkai rapi, Tim.  Kini bingkai itu telah jatuh dan kepingan-kepingan itu berserakan kemana-mana… dan aku ingin mengumpulkan kembali semua kepingan itu, Tim.  Aku ingin menyusunnya kembali”

“Lalu, apakah kepingan itu tidak bisa kau temukan di rumah ini”

Pat menggeleng

“Tidak, Tim. Kepingan itu berhamburan…berserakan kemana-mana….”

“Lalu apakah harus kau sendiri yang mencarinya? … bagaimana dengan yang lain?”

Kini giliran Pat yang terdiam.

“Sebenarnya….aku pun berharap yang lain memiliki pikiran yang sama denganku”

“Bagaimana bila tidak, Pat?. Bukankah selama ini hanya kau yang merawat rumah ini?”

“Aku tak tahu…”

“Apakah yang lain tahu kau akan pergi, Pat?”

“Belum…”

“Rumah ini akan kosong, Pat… kau tahu itu, kan?  Siapa lagi kalau bukan kau yang menempatinya?”

“Rumah ini milik kami, Tim.  Kami semua yang menempatinya”

“Maksudmu mereka akan merawat rumah ini? Bagaimana bisa?…”

“Aku tak tahu, Tim.  Yang aku tahu…aku harus mengumpulkan kepingan Puzzle itu”

“Kau bilang rumah ini kepingan Puzzle… tapi hanya kau yang menyusun dan mencari kepingan itu sendiri, Pat!”

“Tim…aku tidak pernah bilang rumah ini awalnya adalah kepingan Puzzle yang lengkap dan sempurna.  Sejak awal ada beberapa kepingan yang hilang dalam bingkai puzzle itu  yang membuat kami tak pernah tahu gambar apakah yang sebenarnya dibentuk oleh Puzzle itu. Sampai detik ini, Tim….sampai detik ini”

Tim terdiam, ia menatap Pat yang turun dari meja kayu itu dan melanjutkan mengemas barang-barangnya.

“Maaf, aku harus pergi, Tim.  Untuk diriku dan terutama…rumah ini”

Lalu mereka berdua berpelukan dengan erat dan mengucapkan perpisahan.  Pat pun melangkah dengan berat meninggalkan rumah yang selama ini ia tempati.  Baru beberapa langkah, ia berbalik dan menengok ke belakang memandangi rumahnya,

“Rumah yang cantik“, katanya sambil tersenyum.  Dan ia pun melanjutkan langkahnya.

—————

Karawaci, 8 maret

22:46

BOTOL KOSONG

seandainya aku Van Gogh
aku akan melukis dirimu
sebagai sebuah botol kosong yang cantik
dan kau pun akan marah besar
lalu kau iris telingaku
dan kubagikan irisan itu
kepada teman-temanku

atau andaikan aku Modigliani
si pelukis kere yang bergengsi
aku akan melukismu tanpa mata
lalu setelah itu aku mabuk dan berpesta pora
dan saat kulihat lagi kanvas itu
kutambahkan sedikit gayaku
tanpa otak
—————-
9 maret, karawaci
11:02

MENARA

sang Raja mengajak rakyatnya
untuk membangun menara
agar mereka tak terpisah
dan bisa memanah matahari

tapi Tuhan mendengar itu
Dia pun murka
bencana turun dari tanganNya
mereka pun dalam kekalutan
dan bahasa tercerai berai

umat yang satu
kini terpisah
tak lagi bisa mengerti
satu sama lain

manusia tak pernah belajar
dari sejarah yang pilu
tapi kami selalu mencoba
membangun lagi menara itu
untuk memanah matahari

———–
karawaci, 2012

TEKS

abad teks
abad informasi
abad kemajuan
dimana kami bebas berpendapat
dan menulis sesuka hati
lho, ini kan abad (post) modern !
kami ucapkan itu dengan keras
tanpa tahu di zaman apa sebenarnya
pemikiran dan kaki kita berpijak
inikah era demokrasi?
aku baru melihatnya
indah sekali…
dimana si pintar berorasi
si bodoh terprovokasi
atau malah sebaliknya
harmonis, bukan?

di sini kami bersuka ria dengan huruf
bersembunyi di balik huruf
berkilah melalui jari yang menari
di atas keyboard,
keypad Hand Phone,
touch screen,
bukan lagi cerita tentang tinta hitam
diatas secarik kertas
apalagi piktograf dan hieroglif

informasi!
kami lapar akan informasi
beri kami informasi!

tak ada batas
tak ada rahasia
tak ada lagi dinding penghalang
mari menulis
menulis
menulis
dan ditulis
di sosial media
di blog
di manapun kau berada
tentang dirimu
tentang dirinya
menjadi Nabi
menjadi Nabi
menjadi Nabi

bicara?
apa pula itu suara?
tulis sajalah!
cacian,
makian,
sindiran,
cukup tulis saja!
kan ada twitter,
cocok dengan sifat kami
yang pengecut
yang selalu sembunyi
dan bicara di balik punggung
karena kami ini bangsa primitif,
penakut,
keturunan harimau yang telah dijinakkan

informasi,
teruslah datang mengalir bagai air
sampai datang abad yang kami nanti,
abad telepati

semoga kami jadi lebih berani

sedikit
———————

maret 8, 2012
02:42

APA KAU SUDAH MATI ?

apa kau sudah mati?
seperti Tuhan
yang dibunuh Nietzsche

………

….

ah,
ada pelacur yang bernyanyi
dengan suara merdu
namun tatap matanya tetap genit
ia berdiri menunggu di samping bulan
yang tiada juga purnama

dan aku memanggul senapan
seratus kaki darinya
hendak menembak itu bulan
supaya mati sinarnya
lalu aku bisa mendekatinya
tanpa terlihat olehnya
atau siapapun juga

dan aku berubah menjadi binatang
berkaki empat
dengan dengus yang buas
dan liur yang tumpah bercucuran

…..

………

apa kau sudah mati?
seperti Tuhan
yang dibunuh pengikut Nietzsche

………

…..

ah, apa yang telah kulakukan?
apa yang telah kulakukan terhadapnya?
apa yang telah kulakukan pada bulan yang indah?
seketika itu juga
aku berubah menjadi manusia kembali
dan aku menyesali
apa yang telah terjadi

aku hanya berdiri mematung
di hadapan pelacur yang terkapar di aspal
berdarah dia punya kemaluannya
terluka oleh penisku yang menegang
dan tercabik itu lehernya
karena taringku yang tajam

…..

……..

apa kau sudah mati?
seperti Tuhan
yang dibunuh pengikut tren Nietzsche

………

…..

ah,
ternyata aku masih mendengar suara
yang menuntunku dalam gelap
samar-samar,
aku ikuti muasal suara itu
terkadang dia menjauh
tapi lama kelamaan ia mendekat
aku sudah dekat

tangan siapakah yang kusentuh ini?
begitu kuat genggamannya
begitu hangat
ia meraba wajahku,
dan aku pun mencoba meraba wajahnya
aku menduga ia pun kesulitan melihat dalam gelap
dari suaranya yang gemetar
aku tahu ia ketakutan,
aku pun begitu

aku peluk ia erat-erat
tak terasa air mata hangat meleleh di pipiku
ia juga menangis
kami berdua berpelukan dalam gelap
sesenggukan
takut akan kehilangan
kehangatan yang kami rasakan saat ini

…..

………

apa kau sudah mati?
seperti Tuhan
yang dibunuh oleh ….

ah, siapa lagi?

 

————–

Karawaci, 26 februari 2012
21:32

CAHAYA

kemana aku harus berlayar
di tengah luas samudera
bila tak ada lagi cahaya bintang
yang menolongku dalam gelap?

akankah Kau tunjukkan arah
pada diriku yang tersesat?

akankah Kau beri aku seberkas sinar
‘tuk menuntunku berjalan ?

jalan ini gelap gulita
tak kulihat ada cahaya yang nyata

Tuhan, beri hamba pertolongan dan kekuatan
agar kuselalu bertahan

aku tahu ini hanya sementara
aku pun tahu ini hanya permainan
siapapun yang kalah atau menang
pada akhirnya kan menghilang

——–
Karawaci, 2011

BERITA

di antara teks yang berbicara
yang terangkai begitu rapi
dan saling terkait begitu rapat
tertera koma yang tersembunyi
di balik meja redaktur
dan ratusan bahkan ribuan pekerja
semuanya disuguhkan dalam seporsi berita
untuk disuapkan ke dalam mulut kami
bayi-bayi sepanjang hayat
yang tak pernah beranjak dewasa
dan bisa berpikir dengan jernih
sedari dalam rahim ibu kami tercinta

antara lensa mata kami dan layar televisi
ada sebuah jarak yang memisahkan
tentang sebuah kejadian
tapi kami tak pernah tahu
seberapa jauh jarak itu
atau seberapa dekat ia ada disana
kami hanya menyaksikan
dan merekam yang telah kami lihat
lalu dari mulut kami yang kecil
keluar berbagai macam opini
kadang umpatan,
kadang tawa,
kami hanya percaya pada layar,
antena,
juga seutas kabel,
asalkan gambar bisa terlihat
suara bisa terdengar
dan kami pun menikmatinya
dengan secangkir kopi panas

seperti yang kami katakan
kami tak pernah tahu
apakah yang tersembunyi di balik koma
antena,
kabel,
dan jarak yang terbentang
hingga kami percaya begitu saja
pada sebuah berita yang ada,
menelan bulat-bulat
tanpa mengunyahnya dengan benar,
alih-alih mengunyah
memastikan dulu apakah beracun atau tidak
kami seringkali lupa
karena kami masih bayi
dan akan selalu menjadi bayi
walau ajal mendekati
di usia yang ke sembilan ratus

apa berita hari ini, Tuan?
semakin panas semakin baik!
tidak ada artinya berita yang dingin
atau hambar
tapi Tuan, kami kehabisan bahan!
cari! apapun itu!
sajikan yang tercepat dan terbaik
kalau perlu hangatkan lagi dengan microwave!
tapi bagaimana kalau mereka bosan?
tambahkan penyedap rasa!
semakin banyak semakin baik!
kita butuh hari ini juga
sebelum esok datang lagi

akhirnya esok pun tiba …

dan sialnya

kami belum juga dewasa …
——————
Karawaci, 26 Februari 2012
19:59

TUNANGAN

selamat kepadamu
dan calon suamimu
ketika kudengar engkau hendak bertunangan
bagai ada geledek menyambar
kepalaku

selamat kepadamu
dan calon suamimu
selamat menjalani kehidupan baru
berdua dengannya
semoga bahagia selalu
jangan lupakan aku

————————

KARAWACI, 16-06-2009
11:38

OJE

Oje,
kudengar kabar tentangmu malam ini
kau telah pergi meninggalkan kami
pada hari selasa yang lalu
kau telah lalui jalan yang panjang, teman
dan kini harus berhenti
sudah sampai waktumu di dunia ini

aku tak tahu harus berkata apa
tapi ketika mendengar kabar itu
aku langsung teringat wajahmu
ya,
wajahmu ketika kecil dulu
waktu kita duduk di bangku SD bersama
hingga di bangku SMP
masa-masa yang indah di kota kecil kita
Blitar,
kota yang menyimpan segala kenangan kita

dan waktu dua tahun yang lalu
ketika aku berkunjung kesana
kau memboncengku di sepeda motormu
menembus malam yang dingin dan sepi
di kota itu,
kau menemukanku yang sedang kebingungan
mencari Becak

aneh bukan,
mencari Becak pada malam yang telah larut
tapi kau kenal baik diriku
karena itu sikapmu wajar saja
maafkan aku kalau waktu itu aku sempat tak mengenalimu

kita bercengkrama bersama teman-teman lama
di bawah langit gelap
bercanda,
rindu rasanya nyaris sepuluh tahun tak berjumpa
membicarakan masa lalu
dan kabar teman-teman kecil kita dulu
berkeluh kesah tentang kenyataan yang kita hadapi
dan tertawa saat mendengarmu yang belum juga lulus kuliah
memang,
semua berubah
waktu berubah
tidak seperti dulu lagi

Oje,
sejak SD kau sudah dipanggil dengan nama itu
aku tak tahu kenapa
mungkin ada hubungannya dengan kasus O.J Simpson
yang sempat ramai di tahun 1994,
tapi memang tak ada yang menyangka, Je
kalau Tuhan akan memanggilmu di tahun 2012
tentu kau pun begitu
dan kami semua begitu

saat Addy teman kita itu memberitahuku
aku hanya terpaku memandang wall facebookmu
dan kulihat foto-fotomu

aku ingat
dulu kau menyemangatiku
mendukungku yang berkiprah di jalur musik ini
katamu kau bangga
bisa berteman dengan seorang Artis
tak tahu aku harus bicara apa,
aku belum jadi apa-apa, Je
jalan ini tak semudah yang kubayangkan
begitu berat
kadang membuatku nyaris putus asa
tapi aku harus terus berjalan

Oje,
kau telah pergi lebih dulu meninggalkanku
aku pun nanti akan menyusulmu
dan teman-teman kita yang lain pun begitu
kau membuatku sadar,
betapa cepatnya waktu berlalu
dan betapa singkatnya hidup itu
apakah nanti kita akan bisa bertemu kembali, Je?
berkumpul lagi bersama teman-teman
tertawa terbahak-bahak
bertengkar
saling mengejek
bermain sepak bola dan kelereng
seperti masa kecil kita dulu?
hidup tanpa beban
tanpa masalah
dan tanpa dosa

Oje,
aku akan selalu mengenangmu
dan mengukirmu di dalam hatiku
aku senang pernah mengenalmu
aku senang kita telah melewati masa kecil bersama
aku bangga kita tak saling melupakan ketika dewasa
aku bisa bertepuk dada dan berkata lantang pada Jakarta
“Aku punya teman sejati!”

untukmu, Je
aku ucapkan selamat jalan,
selamat berlayar, teman baikku
aku akan selalu rindu padamu

————
Karawaci, 27 Januari 2012
23:18

GADIS CINA

rasa manis liang teh di tenggorokan
masih belum kulupakan hingga saat ini
bersama bau dupa di rumahmu
mengingatkanku pada masa kecilku dulu
saat bertandang ke rumah temanku
ya, waktu aku masih smp
dan berseragam putih biru

setiap pecinan yang kulewati di kota manapun
pasti ada memori yang kembali
akan rasa manis
yang pernah kita jalani bersama
karena itu aku suka jalanan di Kota,
glodok,
pasar baroe,
petak sembilan,
jalan kemenangan,
semuanya seakan terbentuk oleh seraut wajahmu
yang menghilang

di luar jendela,
kembang api bertabur meriah di langit gelap
langit jadi terang
tapi tetap saja tak bisa menerangi jiwaku
yang redup
seperti nyala senter yang kehabisan baterai
menyala
mati
dan hidup lagi
mati
hidup
dan menyala
lagi

aku diburu Tuhan
Dia mengintaiku
aku pun merangkak dan berlari seperti anjing
terjatuh
terseok
celana jinsku koyak
berlumur lumpur
sembunyi di balik tembok
berteriak minta ampun
tapi tetap aku tak bisa sembunyi
dan aku tak bisa mendengar
apa yang diteriakkan olehNya

Gadis Cina,
aku ingin menghirup bau dupa itu lagi
biarkan aku menghirupnya
membuatku tenang
dan tertidur pulas
di atas perutmu,
bakarkan dupa untukku
di sekitar tempatku berbaring,
aku gemetar
siapkan juga segelas Liang teh untukku,
jangan yang pahit
nanti aku teringat kembali kenangan busuk itu,
aku ingin yang manis,
agar aku bisa teringat seraut wajahmu lagi,
aku tak ingin celestamine lagi
untuk pengantar tidurku
aku gemetar,
aku tak ingin obat itu lagi
untuk membuatku bermimpi
indah

Gadis Cina,
tolong aku,
biarkan aku tidur
di atas pangkuanmu
seperti waktu aku bayi dulu

————————–
karawaci, 23-1-2012
00:06