Si Monyet (Bagian Lima Belas)

Y : He, Monyet! sedang apa kau? melukis? pagi buta begini?!
X : Iya, Bang. Hehehe…
Y : Coba aku lihat. Aah…kau lukis dia lagi, He monyet tak tahu diri?!
X : Iya, Bang.
Y : Dan akan kau berikan ke dia lagi?
X : Tidak, Bang.
Y : Lantas?
X : Akan kusimpan untuk diriku sendiri saja, Bang. Aku juga sedang melatih tanganku lagi untuk melukis manual di atas media apapun.
Y : Mulailah kau lukis wanita lain saja!
X : Tak bisalah bang. Tanpa cinta mana bisa aku melukis wanita.
Y : Huh! melukis saja kau tak becus, sudah begitu pilih-pilih lagi!
X : Ah, abang juga sama saja suka pilih-pilih, makanya sampai sekarang tak punya pacar. Aduh!!! ampunn, Bang!! Jangan kau pukul aku lagi, Bang! Ampunn!!

———
Meruya, 26 Agustus 2015
5:59 AM

Si Monyet (Bagian Empat Belas)

Y : Monyet ? Belum tidur kau?

X : Belum, bang…

Y : Apa yang kau risaukan, He Monyet?

X : Tak ada, Bang… hanya tak bisa tidur saja. Insomnia seperti biasa,,,

Y : Masih kepikiran kau dengan sikapmu padanya?

X : ……

Y : Apakah dia benci dengan kau, monyet? Hanya karena kau kirim lukisan potret dirinya setiap seminggu sekali-dua kali?

X : ….Tak tahulah aku, Bang. Mungkin saja.

Y : Apa kau merasa bersalah? Karena kau pikir dia jadi takut padamu?

X : ….

Y : Aku tahu semua, monyet. Akupun tahu rasa cintamu padanya menggebu. Bukan cinta kotor. Aku tahu itu…

X : Dengan apa harus kuungkapkan, Bang? ….dengan kata-kata aku pernah dikira bohong oleh seorang gadis. Kini aku coba dengan lukisan…mungkin aku malah dicap gila, freak atau sebagainya.

Y : Bagaimana dengan tulisan?

X : Mengirim puisi padanya, Bang? Aku pikir sama saja seperti mengirim lukisan padanya. Bisa makin takut dia padaku.

Y : Ya sudahlah….kalau begitu menulislah, monyet. Untuk dirimu sendiri. Jangan sampai kau begini terus.

X : Aku hanya heran, Bang. Mengapa cinta tak pernah datang tepat waktu padaku? Kala itu kita pernah bertemu bersama di bawah terang bulan purnama. Tapi saat itu aku hanya berusaha bersikap sebagai teman yang baik untuk menghormatinya. Apakah dia salah sangka, Bang? Waktunya pun tak tepat…sedang musim begal. Dasar pemerintah kampret!

Y : Dan kini saat kau ajak bersua dia selalu mengelak?

X : Iya, Bang…tapi aku tetap berpositif thinking padanya. Ketika dia bilang sibuk, aku percaya sia sibuk. Ketika dia bilang dirinya sakit, akupun percaya seratus persen.

Y : Hadapilah kenyataan, monyet. Bila dia tak suka kau…ya kau harus terima itu. Kau harus tahu dirilah.

X : Ya, benar Bang…

Y : Lantas apalagi yang kau risaukan?

X : Aku hanya khawatir dia benar-benar muak melihatku. Walaupun hanya sekedar melihat fotoku di social media.

Y : Itu sudah pasti…muka kau jelek. Aku pun berkali-kali mau muntah melihat kau punya akun Instagram.

X : ……

Y : Sudah solat isya kau, monyet?

X : Belum, Bang …

Y : Lekas solat. Cinta sejati malah tak kau temui. Bersyukurlah padaNya karena kau masih bisa merasakan nikmatnya cinta …..walau tak berbalas.

X : Baik, Bang ….

————

Karawaci, 26 agustus 2015

00:16

Si Monyet (Bagian Tiga Belas)

Y : He, Monyet!! Sudah menyerah kau mengejar dia?!
X : Eee…
Y : Hard Loving Woman rupanya yang kau kejar, monyet!
X : Eeee…
Y : Aku bisa baca! dia sedang tak ingin bercinta, monyet!
X : Eeeee…..
Y : Atau menurutku dia sedang kasmaran dengan seseorang, monyet! Mati saja kau!
X : Eeeeee……
Y : Bercermin saja kau dulu sebelum mengejar dia, monyet! Kau tak pantas buatnya! Dekil dan jelek kau ini!
X : Eeeeeeee…..
Y : Bibit cintamu yang kau tanam tak ada yang tumbuh satupun di hatinya, bukan?!
X : Mungkin karena sekarang sedang musim kemarau, Bang. Aaduh!!!! jangan kau pukul kepalakulah, Bang!
Y : Aku ini berkata-kata dengan kiasan! Jangan kau respond aku dengan kau punya jawaban bodoh itu!
X : Ma-ma-maaf, bang!
Y : Berapa kali sudah kau ajak dia berkencan dan dia menolak, monyet?!
X : Baru tiga kali, bang!
Y : Apppaaa??!!! Sudah tiga kali dan kau masih tak sadar kalau dia tak suka kau??? Dasar kepala batu kau, monyet!
X : Ah, abang juga sama saja kepala batu macam aku…Adduhhhh!!! aduhh!! ampun, bang!! jangan kau tonjok aku lagi, bang!
Y : Ya sudahlah, kau tengok sawah Bapak kau saja bila kau sempat! Jangan lama-lama di kota!
X : Baik, bang!
Y : Kau harus tahu diri sebagai seorang laki-laki! Ingat! kau tak ambil paket jatuh cinta! tapi kau ambil paket yang ketiga… Paket spesial yang berisi Jatuh Cinta dan Patah Hati! Kau harus siap!
X : Benar, bang!

—-
Meruya, 25 Agustus 2015
6:20 AM

Si Monyet (Bagian Dua Belas)

Y: He, Monyet! Kau ini sedang jatuh cinta lagi kan?

X: Bah! Darimana Abang tahu?

Y: Muka jelek kau itu bisa aku baca!

X: Aduh!! Sakit, Bang! Jangan kau pukul kepalaku!

Y: Lalu paket mana yang kau pilih, monyet?

X: Paket apa pulak, Bang? Tak paham aku apa hubungannya jatuh cinta dengan paket. Ada-ada saja Abang ini…Aduh! Jangan kau injak kakiku, bang! Ampun, bang!

Y: Dengar kau monyet jelek, blo’on, bauk kambing! Kalau kau jatuh cinta, ada tiga paket yang bisa kau pilih.

X: A-a-apa saja itu, Bang?

Y: Yang pertama adalah Paket Cinta, ini adalah paket untuk tipe manusia tak tahu diri. Yang ia tahu bahwa cintanya harus terbalas! Kalau tak terbalas dia bisa stress! Depresi lalu bunuh diri! Atau terus mengejar kekasihnya seperti kisah si Maj’nun yang terus mengejar Layla sampai mati.

X: Bah, ngeri kali aku dengarnya! Lalu yang kedua paket apa, Bang?

Y: Paket patah hati ! Ini buat orang payah yang sudah kalah sebelum berperang karena minder duluan! Tak ada usaha! Gampang patah di tengah jalan! Barangkali kau termasuk di dalamnya!

X: Bah! manalah mungkin, Bang! Mendengarnya saja aku merasa jijik! Paket ini aku rasa buat abege alay, Bang. Lalu bagaimana dengan paket yang ketiga, Bang?

Y: Paket Spesial yang terdiri dari Cinta dan Patah Hati! Bila kau jatuh cinta kaupun harus siap patah hati! Orang bijak tahu kapan maju, berhenti bahkan mundur dari medan perang! Kalau kau laki-laki sejati, Kau ambil paket ini biarpun usiamu tak muda lagi!

X: Ah, macam Abang muda saja…kekasih juga belum punya. Tak pernah aku lihat Abang punya pacar….ADUHHH!! Sakit Bang! Jangan kau pukul kepalaku lagi, Bang! Ampun, Bang! Ampuuunnnn!

——

Karawaci, 19 agustus 2015

01:58

Si Monyet (Bagian Sebelas)

Y: He Monyet! Mau sampai kapan kau tidur terus hah?! Bukak pintu!

X: ……..

Y: Kenapa pulak kau ini, monyet?! Bukak pintu!

X: ……..

Y: Kau tak dengar kataku, Monyet?!! Woii! Bukak pintu ni aku bilang!

X: ……..

Y: Cemana pulak kau macam perempuan begini! Kau patah hati ya?!

X: ……….

Y: Ha! Sudah kuduga kau ada masalah dengannya! Apa kubilang! Mampus kau! Sedari awal aku memang harapkan dia mematahkan hati kau itu!

X: …………

Y: Kau harus terima itu, monyet! Dia tak cinta kau! Dia juga tak sayang kau! Kau harus siap untuk patah hati ketika kau jatuh cinta!

X: ………..

Y: He! Bukak pintu! Kau laki-laki atau perempuan hah?! Biar aku gampar muka kau yang dungu macam keledai itu!

X:……….

Y: Berani kau tak dengar kataku, monyet!?

X: ……….

Y: He Monyet! Ingat kataku! Menulislah! Jangan kau tenggelam dalam perasaanmu yang konyol itu!

X: ………..

Y: Dasar kepala batu!! Ya sudah! Aku ingin lihat berapa lama kau tahan di dalam kamarmu ini! Aku ingin tahu bagaimana caranya Kau berak!

X: …………..

———
Karawaci, 3 – 10 – 2014
1:38 pm

Si Monyet (Bagian Sepuluh)

Y: Monyet!! He Monyet!! Dimana kau?!

X: Ada apa, Bang?

Y: Bah! Kenapa kau tak bersemangat begitu, Monyet?!

X: Tak apa, Bang…tak ada apa-apa

Y: Mana tulisan kau yang terbaru? Tak pernah kulihat kau menulis lagi!

X: Sedang tak mau saja, Bang….

Y: Kenapa kau, monyet? Ada masalah di kantor?

X: Tidak, Bang…tak ada. Masalah apapun..

Y: Lalu kenapa kau tak bersemangat begitu, monyet?

X: Hanya letih saja, Bang…Tak ada apa-apa, sungguh…

Y: Aha! Tahu aku! Pasti karena tak ada kabar darinya kan? Dasar kau memang monyet! Kau pikir aku tak tahu?!

X: Ah, apa pulak abang ini…..aduh! Sakit sekali, Bang! Jangan pukuli aku!

Y: Makanya jangan sekali sekali kau remehkan aku!

X: Baik, Bang…

Y: Kemarin kau bertemu dia kan? Bagaimana ?

X: Bagaimana apanya, Bang?

Y: Cantik tidak dia?

X: Ca-cantik, Bang!

Y: Lalu?

X: Lalu apanya, Bang?

Y: Monyet tolol! Kau nyatakan cinta padanya tidak?!

X: Be-belum..eh tidak..Ma-manalah mungkin, Bang…bisa kabur dia nanti…

Y: Payah kali kau!!

X: Ah, macam Abang punya pacar saja! Aduh! Ampun, Bang,

Y: Tak kuatir kau dia diambil kekasih orang, monyet?

X: Kuatirlah, Bang… tapi bukan itu yang kupikirkan,,

Y: Sebentar lagi dia pergi jauh lagi, apa itu yang bikin kau bimbang?

X: Eeee….

Y: Dasar Monyet! Jangan hanya karena dia pergi kau jadi lemas! Dasar manja kau!

X: Ti-tidak, Bang…!

Y: Bah! Pusing aku tiap lihat kau seperti ini…! Kalau kau memang suka padanya…lekas kau katakan padanya!

X: ….

Y: Bah! Malah diam kau! Ya sudah segera tidur sana! Kalau tak mampu ungkapkan cinta di kenyataan, kau ucapkan saja kepadanya di dalam mimpi!

X: Ah, bisa saja Abang ini…

———
Karawaci, 19-9-2014
23:37

Si Monyet (Bagian Sembilan)

Y: Bagaimana, Monyet…sakit apa kau kata dokter?

X: Radang biasa, Bang…yah semoga saja tak sampai seminggu bisa sembuh..

Y: Tak sekalian kau minta resep rindu hati pada dokter?

X: Bah! Mana pulak ada hal yang semacam itu, Bang..

Y: Apa kabar si dia hari ini, monyet?

X: Agak kurang sehat sepertinya…

Y: Khawatir kau padanya, monyet?

X: Tentulah, Bang…

Y: Rindu kau padanya?

X: Rindulah, Bang…

Y: Percayalah padanya, monyet… Dia lebih kuat daripada kau..

X: Tentulah, Bang…aku percaya padanya..

Y: Kalau begitu ayo nanti malam kita party lagi…lupakan dia sejenak, monyet! Aku kenalkan pada teman-teman wanitaku yang hot bin panas!

X: Ah, tak maulah Bang…badan sedang payah begini. Sudah kubilang semalam pada abang, hatiku ini sedang dicuri…percuma kau ajak kenalkan aku ke teman-teman wanita Abang
…Eiit! jangan kau tonjok aku, Bang!

Y: Ah, ya sudahlah! Aku nanti pergi sendiri saja! Kau tidur saja, monyet! Jangan lupa makan dan minum obat! Jangan pulak kau terlalu banyak berpikir tentang dia!

X: Baiklah, Bang…

—————————–
Karawaci, 13-11-2014
11:17